Dalyono, Gelandangan yang Sukses Jadi Entrepreneur Bidang Furniture (1)
09 Jun 2011
Dalyono, Gelandangan yang Sukses Jadi Entrepreneur Bidang Furniture (1)
Tidur di Jembatan, ke Jakarta Bermodal 25 Kg Beras
Keterpurukan dalam gelombang kemiskinan akut sudah kenyang dirasakan Dalyono. Namun semua ganjalan hidup itu justru menjadi vitamin bisnis kembali mengobarkan semangat entrepreneurship. Berkat ditempa dalam kesusahan itu ia bangkit meroket menjadi entrepreneur dengan mendirikan Mataram Furniture.
Penulis: VERI VLORIDA (reporter Indo Pos)
KEHIDUPAN Dalyono sungguh memprihatinkan. Sejak lahir, dia sudah hidup dalam keadaan miskin dan sulit. Keterbelakangan pendidikan tak mampu membuat orang tuanya, Ngadiman dan Boniyem, menyekolahkan diasetinggi mungkin. Memimpikan bisa punya sawah pun sudah syukur karena ke-luarga dia hanya buruh tani. Dalyono ingin berbuat membantu orang tua namun tidak tahu harus bagaimana karena hanya tamatan SMA 17 Bantul.
Kalaupun orang bisa bicara merasakan pahit dan manisnya hidup justru malah jauh berbeda dengan yang Dalyono alami. Merasakan manispun belum pernah Dalyono belum per-nah mengecapnya. Kondisi itu dia alami ketika belum membuka wirausaha mebel di kampung kelahirannya Kalimundu. Gading-harjo Sanden, Bantul, Jogjakarta.
Di desa itulah hingga kini menginjak usia 30 tahun, dia menghabiskan waktu memproduksi meubel. Menyalurkan ide hingga membangun komunitas jaringan wirausaha untuk membangun pemuda desa. Hanya dunia mebel yang dia kuasai ketika itu. "Melalui mebel pula saya bisa menyebarkan virus entrepreneurship bagi teraan senasib pemuda desa," katanya.
Tetapi dalam waktu singkat kurang dari empat tahun berubahan besar-besaran terjadi dalam dirinya. Terkadang, Dalyono pun bingung, dirinya bisa jadi seperti sekarang hidup mandiri memiliki usaha. Pola pengembangan pemberdayaan pemuda desa juga dapat menekan arus urbanisasi agar anak muda di desanya tidak meninggalkan kampung halaman dengan harapan akan mendulang mimpi sukses di Jakarta Mengapa? Bertarung hidup menjadi gelandangan, tukang parkir di Jakarta pernah alaminya. Berbekal membawa beras 25 kilogiam rupanya tidak membuat Dal-yono sukses di Ibu Kota. Saya hanya melihat Jakarta dari televisi. Patokan saya kalau mau sukses, ya harus menginjakan kaki ke Jakarta dahulu," ujarnya.
Kenyataannya terbalik. Kehidupan di rantau membuat kesulitan semakin membelit. Tidak lebih dari seminggu bekal beras habis uang ludes namun pekerjaan tak kunjung dapat. "Ketika itu sebelum ke Jakarta hanya bermodal nekat naik kereta dan akhirnya saya terdampar di kawasan Teluk Gong Jakarta Utara," jelasnya.
Batin berkecamuk sedangkan bila pulang Dalyono malu kepada keluarga. Hanya adadalam pikirannya, jadi orang sukses harus ke Jakarta. Sedikit demi sedkit Dalyono mengumpulkan uang berjualan ayam di Ibu kota. Pernah menjadi tukang parkir dan pengasong jalanan di kawasan itu. Tidur pun hanya di bawah kolong jembatan Penjaringan. Hidup terlunta-lunta selama tujuh bulan di Jakarta.
Semua serba zero to zero (00) ketika dia mulai merintis semua usaha. Tanpa modal, koneksi, mitra bisnis atau lagi pasar yang dituju, belum terlintas dibenaknya. Semuanya dijalani dengan otodidak karena di kampung anak muda hanya bisa bekerja jadi buruh. Tidak tersedia lapangan kerja sehingga memaksa Dalyono membuka mebel dengan dibantu dua teman. Saya akhirnya jatuh sakit dan di bawa pulang soerang kenalan gelandangan yang membawa pulang ke Jogjakarta," kisahnya.
Setiba di Jogjakarta Dalyono tidak ingin langsung pulang ke rumah. Ia terpaksa ha-rus bekerja di kota Gudeg dan uangnya dikumpulkan untuk dikirim ke rumah di Bantul. Batin menangis namun Dalyono harus bertahan tegar sebagai anak sulung dari dua bersaudara. "Saya hanya berjanji, tidak mau kembali lagi ke Jakarta. Kecuali bila orang yang sengaja mengundang saya," ucapnya.
Akhirnya Dalyono dimasukkan ke Panti Sosial Bina Remaja di Sleman. Hampir setahun di panti, ia lalu dipekerjakan di bagian menggambar Summer Gallery, perusahaan furnitur di kota Jogyakarta.
"Saya dianggap tidak bisa menggambar. Maka dari itu oleh bos saya dipindah-pindah ke perusahaan lain selama dalam waktu lima tahun. Justru selama berpindah-pindah itu saya merasakan disiplin terlatih dan mengemban rasa tanggungjawab," ujarnya.
Tampaknya tuhan memang adil dan menyanyangi saya dalam lindungannya.
Betapa tidak, nasib Dalyono yang serba kekurangan tidak membuat Dalyono larut dalam kemiskinan. Sebagai usaha sampingan saya mendirikan home industri mebel dengan memiliki dua karyawan. Uang modal usaha merupakan hasil tabungan selama menjadi karyawan.
Selama memulai bisnis saya hanya mampu menjual hasil mebel tidak lebih dihargai enam ratus ribu rupiah. Tidak ada teknologi terobosan motif dan mebel hanya dibuat manual dengan tanpa modifikasi. Hanya kayu polos yang dicat begitu saja. Sebab itu harga jualnya menjadi murah. Pernah pula mengalami kerugian akibat ulah mintra bisnis. "Ketika itu saya harus menegak pahit karena mebel senilai Rp 80 juta harus hilang. Alasan yang membeli karena mebel rusak dan tidak memenuhi keinginan," pungkasnya, (bersambung)
Tidur di Jembatan, ke Jakarta Bermodal 25 Kg Beras
Keterpurukan dalam gelombang kemiskinan akut sudah kenyang dirasakan Dalyono. Namun semua ganjalan hidup itu justru menjadi vitamin bisnis kembali mengobarkan semangat entrepreneurship. Berkat ditempa dalam kesusahan itu ia bangkit meroket menjadi entrepreneur dengan mendirikan Mataram Furniture.
Penulis: VERI VLORIDA (reporter Indo Pos)
KEHIDUPAN Dalyono sungguh memprihatinkan. Sejak lahir, dia sudah hidup dalam keadaan miskin dan sulit. Keterbelakangan pendidikan tak mampu membuat orang tuanya, Ngadiman dan Boniyem, menyekolahkan diasetinggi mungkin. Memimpikan bisa punya sawah pun sudah syukur karena ke-luarga dia hanya buruh tani. Dalyono ingin berbuat membantu orang tua namun tidak tahu harus bagaimana karena hanya tamatan SMA 17 Bantul.
Kalaupun orang bisa bicara merasakan pahit dan manisnya hidup justru malah jauh berbeda dengan yang Dalyono alami. Merasakan manispun belum pernah Dalyono belum per-nah mengecapnya. Kondisi itu dia alami ketika belum membuka wirausaha mebel di kampung kelahirannya Kalimundu. Gading-harjo Sanden, Bantul, Jogjakarta.
Di desa itulah hingga kini menginjak usia 30 tahun, dia menghabiskan waktu memproduksi meubel. Menyalurkan ide hingga membangun komunitas jaringan wirausaha untuk membangun pemuda desa. Hanya dunia mebel yang dia kuasai ketika itu. "Melalui mebel pula saya bisa menyebarkan virus entrepreneurship bagi teraan senasib pemuda desa," katanya.
Tetapi dalam waktu singkat kurang dari empat tahun berubahan besar-besaran terjadi dalam dirinya. Terkadang, Dalyono pun bingung, dirinya bisa jadi seperti sekarang hidup mandiri memiliki usaha. Pola pengembangan pemberdayaan pemuda desa juga dapat menekan arus urbanisasi agar anak muda di desanya tidak meninggalkan kampung halaman dengan harapan akan mendulang mimpi sukses di Jakarta Mengapa? Bertarung hidup menjadi gelandangan, tukang parkir di Jakarta pernah alaminya. Berbekal membawa beras 25 kilogiam rupanya tidak membuat Dal-yono sukses di Ibu Kota. Saya hanya melihat Jakarta dari televisi. Patokan saya kalau mau sukses, ya harus menginjakan kaki ke Jakarta dahulu," ujarnya.
Kenyataannya terbalik. Kehidupan di rantau membuat kesulitan semakin membelit. Tidak lebih dari seminggu bekal beras habis uang ludes namun pekerjaan tak kunjung dapat. "Ketika itu sebelum ke Jakarta hanya bermodal nekat naik kereta dan akhirnya saya terdampar di kawasan Teluk Gong Jakarta Utara," jelasnya.
Batin berkecamuk sedangkan bila pulang Dalyono malu kepada keluarga. Hanya adadalam pikirannya, jadi orang sukses harus ke Jakarta. Sedikit demi sedkit Dalyono mengumpulkan uang berjualan ayam di Ibu kota. Pernah menjadi tukang parkir dan pengasong jalanan di kawasan itu. Tidur pun hanya di bawah kolong jembatan Penjaringan. Hidup terlunta-lunta selama tujuh bulan di Jakarta.
Semua serba zero to zero (00) ketika dia mulai merintis semua usaha. Tanpa modal, koneksi, mitra bisnis atau lagi pasar yang dituju, belum terlintas dibenaknya. Semuanya dijalani dengan otodidak karena di kampung anak muda hanya bisa bekerja jadi buruh. Tidak tersedia lapangan kerja sehingga memaksa Dalyono membuka mebel dengan dibantu dua teman. Saya akhirnya jatuh sakit dan di bawa pulang soerang kenalan gelandangan yang membawa pulang ke Jogjakarta," kisahnya.
Setiba di Jogjakarta Dalyono tidak ingin langsung pulang ke rumah. Ia terpaksa ha-rus bekerja di kota Gudeg dan uangnya dikumpulkan untuk dikirim ke rumah di Bantul. Batin menangis namun Dalyono harus bertahan tegar sebagai anak sulung dari dua bersaudara. "Saya hanya berjanji, tidak mau kembali lagi ke Jakarta. Kecuali bila orang yang sengaja mengundang saya," ucapnya.
Akhirnya Dalyono dimasukkan ke Panti Sosial Bina Remaja di Sleman. Hampir setahun di panti, ia lalu dipekerjakan di bagian menggambar Summer Gallery, perusahaan furnitur di kota Jogyakarta.
"Saya dianggap tidak bisa menggambar. Maka dari itu oleh bos saya dipindah-pindah ke perusahaan lain selama dalam waktu lima tahun. Justru selama berpindah-pindah itu saya merasakan disiplin terlatih dan mengemban rasa tanggungjawab," ujarnya.
Tampaknya tuhan memang adil dan menyanyangi saya dalam lindungannya.
Betapa tidak, nasib Dalyono yang serba kekurangan tidak membuat Dalyono larut dalam kemiskinan. Sebagai usaha sampingan saya mendirikan home industri mebel dengan memiliki dua karyawan. Uang modal usaha merupakan hasil tabungan selama menjadi karyawan.
Selama memulai bisnis saya hanya mampu menjual hasil mebel tidak lebih dihargai enam ratus ribu rupiah. Tidak ada teknologi terobosan motif dan mebel hanya dibuat manual dengan tanpa modifikasi. Hanya kayu polos yang dicat begitu saja. Sebab itu harga jualnya menjadi murah. Pernah pula mengalami kerugian akibat ulah mintra bisnis. "Ketika itu saya harus menegak pahit karena mebel senilai Rp 80 juta harus hilang. Alasan yang membeli karena mebel rusak dan tidak memenuhi keinginan," pungkasnya, (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar