Senin, 26 Desember 2011

Kisah Dalyono 2

Cari Lokasi Strategis, Bikin 79 Gerobak Angkringan

Setelah mengikuti pelatihan Ciputra
Entrepreneurship Center 2009,
Dalyono mengembangkanwirausahanya Balikan ia mendirikanpusat pelatihan untuk pemuda desa
Bagaimana kisah dia selanjutnya?



Penulis YERIVLORIDA (reporter Indo Pos)

KREATIVITAS DaJyono tiada hentinya. Tidak hanya melakukan inovasi dengan membuat meubel bermotif batik, ia juga aktif sosial. Membangun desa dengan program social entrepreneur yang gencar dilakukannya Harapannya untuk membantu pemuda desa untuk lepas dari pengangguran dilakuan Dalyono membuka pusat pelatihan. Yakni mendirikan jenis Lembaga Pelatihan Khusus (LPK) Mataram Center.
Ia juga mendirikan lima lembaga yang saya dirikan salah satu cara untuk mengenjot kemampuan jiwa entrepreneur dalam diri sendiri. Yakni jenis lembaga keuangan micro Putra Mataram. Lembaga Pelatihan Khusus (LPK) Mataram Center yang membidangiseni kriya. Mataram Keris sebagai sentra pembuatan asesoris. Abdi Mataram dan Mataram Kasongan untuk pembuatan gerabah dan kerajinan.
Dalyono mampu mencetak peluang usaha yang menyerap banyak tenaga anak muda desa putus sekolah. Hasilnya sejak 2010 lalu didirikan LPK Mataram Center mampu meluluskan 80 orang. Banyak pemuda yang ikut merupakan anak putus sekolah. "Siswa yang bergabung sistem dibuat paket selama tiga bulan," jelasnya
Usia putus sekolah menurutnya, dialami anak muda di kampung. Penyebabnya kemiskinan dan .ih 11, ii in .i mendorong terjadinya urbanisasi pemuda desa ke kota Di desa yang tinggal hanya orang tua saja dan menyebabkan produktifitas terus menurun.
Sebab itu pada 20 LO lalu Dalyono berusaha membantu pemuda desa dan melatihnya berbisnis menambah bekal kemapanan. Ia membantu dengan membuat gerobak untuk berjualan angkringan jajanan kali lima Untuk membuat itu Dalyono mengolah limbah kayu mebel membuat gerobak angkringaa Jumlahnya terus bertambah bahkan hingga hingga kini gerobak angkringan mencapai 79 unit PADAT KARYA Oalvono membuat 79 aerobak anakrlnaan untuk membuka lapanqan kerja ba
Bagi pemuda yang ingin mendapatkan keuntungan dengan berdagang dapat menyewa gerobak senilai Rp 5.000 per hari. Membantu mencarikan lokasi strategis untuk mendirikan usaha angkringan yang menjajakan makanan penganjal perui
Dijelaskannya, setiap penyewa dapat mulai aktifitas berjualan usai magrib sampai menjelang tengah malam. Untuk tem-pat jualan kata Daryono dapat dilakukan di pusat keramaian. Pasar yang memiliki fasilitas umum. Para pedagang juga dibina untuk melakukan pengemasan produk. Sedangkan untuk pasokan makanan yang sudah jadi siap dipasarkan. Ada nasi kucing, gorengan tempe dan tahu serta minuman jahe. "Cara mendapatkannya tidaklah sulit asalkan kerja keras dan mau belajar tanpa mengenal usia," ujarnya Untuk menjadi entrepreneur itu ti-dakdalah susah. Tidak usah terlalu muluk-muluk muluk menafsirkan kewirausahaan. Tidak hanya ditunjang keahlian, pengetahuan dengan pelatihan sagat menjadi modal.
Tekad kerja keras untuk bangkit dari kemiskinan menjadi modal yang tidak bisa ditawar. Hingga saya pun begitu mencintai wirausaha. Bila sudah mencintainya saya pun sulit menolak jika mewujudkan gagasan dalam bentuk karya-karya baru.
Bagi Dalyono, dirinya ingin berbagi kebahagian untuk teman sekampung. Memberikan pengalamannya agar pemuda desa menjadi mapan dengan berwirausaha Ia ingin membuakan, bahwa potensi desa bisa dikembangkan tanpa harus jauh-jauh ke kota Jakarta. "Mengolah sumber daya manusia dan potensi desa yang ada bisa dilakukan sejak masih muda

Kisah Dalyono 1

Dalyono, Gelandangan yang Sukses Jadi Entrepreneur Bidang Furniture (1)

Dalyono, Gelandangan yang Sukses Jadi Entrepreneur Bidang Furniture (1)
Tidur di Jembatan, ke Jakarta Bermodal 25 Kg Beras
Keterpurukan dalam gelombang kemiskinan akut sudah kenyang dirasakan Dalyono. Namun semua ganjalan hidup itu justru menjadi vitamin bisnis kembali mengobarkan semangat entrepreneurship. Berkat ditempa dalam kesusahan itu ia bangkit meroket menjadi entrepreneur dengan mendirikan Mataram Furniture.


Penulis: VERI VLORIDA (reporter Indo Pos)

KEHIDUPAN Dalyono sungguh memprihatinkan. Sejak lahir, dia sudah hidup dalam keadaan miskin dan sulit. Keterbelakangan pendidikan tak mampu membuat orang tuanya, Ngadiman dan Boniyem, menyekolahkan diasetinggi mungkin. Memimpikan bisa punya sawah pun sudah syukur karena ke-luarga dia hanya buruh tani. Dalyono ingin berbuat membantu orang tua namun tidak tahu harus bagaimana karena hanya tamatan SMA 17 Bantul.
Kalaupun orang bisa bicara merasakan pahit dan manisnya hidup justru malah jauh berbeda dengan yang Dalyono alami. Merasakan manispun belum pernah Dalyono belum per-nah mengecapnya. Kondisi itu dia alami ketika belum membuka wirausaha mebel di kampung kelahirannya Kalimundu. Gading-harjo Sanden, Bantul, Jogjakarta.
Di desa itulah hingga kini menginjak usia 30 tahun, dia menghabiskan waktu memproduksi meubel. Menyalurkan ide hingga membangun komunitas jaringan wirausaha untuk membangun pemuda desa. Hanya dunia mebel yang dia kuasai ketika itu. "Melalui mebel pula saya bisa menyebarkan virus entrepreneurship bagi teraan senasib pemuda desa," katanya.
Tetapi dalam waktu singkat kurang dari empat tahun berubahan besar-besaran terjadi dalam dirinya. Terkadang, Dalyono pun bingung, dirinya bisa jadi seperti sekarang hidup mandiri memiliki usaha. Pola pengembangan pemberdayaan pemuda desa juga dapat menekan arus urbanisasi agar anak muda di desanya tidak meninggalkan kampung halaman dengan harapan akan mendulang mimpi sukses di Jakarta Mengapa? Bertarung hidup menjadi gelandangan, tukang parkir di Jakarta pernah alaminya. Berbekal membawa beras 25 kilogiam rupanya tidak membuat Dal-yono sukses di Ibu Kota. Saya hanya melihat Jakarta dari televisi. Patokan saya kalau mau sukses, ya harus menginjakan kaki ke Jakarta dahulu," ujarnya.
Kenyataannya terbalik. Kehidupan di rantau membuat kesulitan semakin membelit. Tidak lebih dari seminggu bekal beras habis uang ludes namun pekerjaan tak kunjung dapat. "Ketika itu sebelum ke Jakarta hanya bermodal nekat naik kereta dan akhirnya saya terdampar di kawasan Teluk Gong Jakarta Utara," jelasnya.
Batin berkecamuk sedangkan bila pulang Dalyono malu kepada keluarga. Hanya adadalam pikirannya, jadi orang sukses harus ke Jakarta. Sedikit demi sedkit Dalyono mengumpulkan uang berjualan ayam di Ibu kota. Pernah menjadi tukang parkir dan pengasong jalanan di kawasan itu. Tidur pun hanya di bawah kolong jembatan Penjaringan. Hidup terlunta-lunta selama tujuh bulan di Jakarta.
Semua serba zero to zero (00) ketika dia mulai merintis semua usaha. Tanpa modal, koneksi, mitra bisnis atau lagi pasar yang dituju, belum terlintas dibenaknya. Semuanya dijalani dengan otodidak karena di kampung anak muda hanya bisa bekerja jadi buruh. Tidak tersedia lapangan kerja sehingga memaksa Dalyono membuka mebel dengan dibantu dua teman. Saya akhirnya jatuh sakit dan di bawa pulang soerang kenalan gelandangan yang membawa pulang ke Jogjakarta," kisahnya.
Setiba di Jogjakarta Dalyono tidak ingin langsung pulang ke rumah. Ia terpaksa ha-rus bekerja di kota Gudeg dan uangnya dikumpulkan untuk dikirim ke rumah di Bantul. Batin menangis namun Dalyono harus bertahan tegar sebagai anak sulung dari dua bersaudara. "Saya hanya berjanji, tidak mau kembali lagi ke Jakarta. Kecuali bila orang yang sengaja mengundang saya," ucapnya.
Akhirnya Dalyono dimasukkan ke Panti Sosial Bina Remaja di Sleman. Hampir setahun di panti, ia lalu dipekerjakan di bagian menggambar Summer Gallery, perusahaan furnitur di kota Jogyakarta.
"Saya dianggap tidak bisa menggambar. Maka dari itu oleh bos saya dipindah-pindah ke perusahaan lain selama dalam waktu lima tahun. Justru selama berpindah-pindah itu saya merasakan disiplin terlatih dan mengemban rasa tanggungjawab," ujarnya.
Tampaknya tuhan memang adil dan menyanyangi saya dalam lindungannya.
Betapa tidak, nasib Dalyono yang serba kekurangan tidak membuat Dalyono larut dalam kemiskinan. Sebagai usaha sampingan saya mendirikan home industri mebel dengan memiliki dua karyawan. Uang modal usaha merupakan hasil tabungan selama menjadi karyawan.
Selama memulai bisnis saya hanya mampu menjual hasil mebel tidak lebih dihargai enam ratus ribu rupiah. Tidak ada teknologi terobosan motif dan mebel hanya dibuat manual dengan tanpa modifikasi. Hanya kayu polos yang dicat begitu saja. Sebab itu harga jualnya menjadi murah. Pernah pula mengalami kerugian akibat ulah mintra bisnis. "Ketika itu saya harus menegak pahit karena mebel senilai Rp 80 juta harus hilang. Alasan yang membeli karena mebel rusak dan tidak memenuhi keinginan," pungkasnya, (bersambung)